Senin, 22 Juni 2015

PEREMPUAN

Adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan segala macam keterbatasan, diberikan kepadanya segala macam kerapuhan, kelemahan, dan sakit berulang-ulang kali. Tapi diberikan pula kelebihan dalam bertahan, bersabar, bertawakkal dan lembut atas segala macam kepedihan yang telah diberikan kehidupan.

Wahai engkau Perempuan yang diciptakan Allah untuk dimuliakan...

Memang... Tak banyak yang bisa dilakukan olehmu, sempit duniamu, kecil hatimu, lemah ragamu dan tak luas daya pikirmu dibandingkan laki-laki. Tapi ketahuilah dan senantiasa ingatlah dalam hatimu, sebaik-baik perempuan adalah yang mengenal keburukan dan kelemahannya kemudian berusaha menghapusnya dengan perilaku yang baik menurut Allah. Hiasilah hidupmu yang sempit itu agar menjadi surga yang memperindah laki-lakimu dan buah hatimu, besarkanlah jiwa dan hatimu dengan jerih payah yang telah engkau usahakan untuk kau persembahkan kepada laki-lakimu dan buah hatimu, perluaslah pengetahuanmu untuk mengantarkan buah hatimu pada hidup yang lebih cerah yang lebih cerah dari dirimu.

Wahai engkau Perempuan yang diciptakan Allah untuk dijadikan tauladan..

Ketahuilah dan ingatlah, seberat apapun beban kehidupan, tak akan memberatkan hidupmu, jika hatimu yang menjadi wadah akan segala macam masalah mempunyai kuantitas yang jauh lebih besar. Jadikanlah hatimu ibarat lautan, yang tak pernah meluap sekalipun terus diisi air sungai.Senantiasa besarkanlah jiwamu agar kau selalu menjadi tempat berteduh bagi laki-lakimu dan buah hatimu. Itu... Adalah wajib bagimu, wahai Perempuan...

Wahai perempuan yang diciptakan Allah untuk dimuliakan...

Dipuja khalayak ramai bukanlah kebanggaan atas engkau. Tugasmu hanya memperindah dirimu untuk laki-lakimu, dan memperindah bahteramu untuk buah hatimu. Selain itu, bukanlah tanggungjawabmu. Tak perlu kau risaukan dan kau pikirkan.

Wahai engkau perempuan yang dijunjung qodratnya oleh Muhammadku...

Senantiasalah berpikir tentang hakikat dirimu dan sebab penciptaanmu, karena hanya dengan itu, kau akan mendapat hidup yang mulia dan memiliki surga dengan sesuka hatimu. setinggi apapun derajatmu didunia, semulia apapun hidupmu, setinggi apapun perolehanmu, taat dan tunduk kepada sang pemilik tulang rusuk adalah wajib dan tak bisa dipungkiri dengan segala macam argumen.

Hawa diciptakan untuk menemani dan melengkapi Adam, bukan untuk mengatur hidup Adam dan berkuasa atas dirinya...

Hawa diciptakan untuk memperindah hidup Adam dan menghapus gelisahnya, bukan untuk menyusahkan dan memberatkan dirinya.

Hawa diciptakan untuk berjalan disisi adam dan menggandeng tangannya, bukan untuk memimpin dan menunjuk-nunjuk didepan wajahnya.

Hawa tercipta untuk melayani Adam, bukan untuk menjadi pemilik atas diri Adam. Karena Hawa adalah sebagian dari diri Adam...

Wallahu A'lam


Minggu, 04 Januari 2015

Kisah Sebuah Gelas


            Suatu kala, sebuah gelas yang terisi penuh berdiri kokoh diatas meja. Ia selalu dapat memberikan kesejukan pada setiap mereka yang merasa dahaga. Namun, suatu hari Tangan Tuhan mendorong gelas itu semakin menuju ujung dan akhirnya tersungkurlah ia di lantai. Cerai berai. Terpecah belah. Tak berbentuk lagi. Dengan perlahan, Tangan Tuhan pula yang memungut dan memadukan kembali puing-puing gelas itu satu per satu, hingga terbentuklah ia kembali menjadi sebuah gelas  yang utuh dengan segenap guratan-guratan bekas benturan dan pecahan. Ia terlihat berdiri seperti gelas yang sebelumnya, sayangnya ia tak demikian juga. Gelas itu tak dapat lagi terisi air penuh seperti sediakala. Ia dapat menyejukkan namun tidak dapat memberi rasa lega pada peminumnya. Ia sudah tak sempurna secara fungsi. Tapi cobalah lihat sisi lain, ia serasa gelas baru, bukan lagi gelas lama yang sudah pudar warnanya. Kini ia memiliki nilai estetika yang lebih tinggi. Ia terlihat jauh lebih indah dengan guratan-guratan yang seolah-olah variasi dan hiasan baginya.

Gelas yang sudah menjadi pecahan kaca, memang tak akan kembali sempurna seperti sediakala, tapi ia bisa menjadi gelas utuh dengan keindahan lain. persoalannya hanya terletak pada hati kita, bagaimana kita bisa melihat sisi indah itu. Melihat dan membandingkan kehancuran yang sudah terjadi dengan kesempurnaan sebelumnya hanya membuat hati kita semakin sakit. Karena penyesalan tidak memiliki guna kecuali sebagai pijakan untuk beranjak. Lagipula didunia tidak ada yang sempurna, semuanya tergantung hati kita, dari sisi mana kita mau melihat. 

Minggu, 30 November 2014

Ibu… Aku Rindu Parasmu

Ibu…Aku ikut!” teriakku. Aku gelagapan, tersadar dari tidurku. “Astaghfirullah hal adziiim” ucapku dalam hati. Sejenak aku termenung memikirkan mimpiku. Ku lirik jam ponselku, menunjuk angka 02:24. Ku usap wajahku dan bangun menuju tempat wudhu. Tetes demi tetes air wudhu yang dingin membuat pikirku jernih. Langsung aku menuju musholla untuk sholat dua rokaat. Tahajjud.
Seusai salam, ku angkat kedua tanganku dan mengirim fatihah untuk ibundaku yang telah bersinar menjadi bintang di Arasy bersama Penciptaku.
Aku beranjak dari munajahku menuju teras musholla. Hanya duduk santai menikmati hembusan demi hembusan angin malam, karena mataku sudah tak mau terpejam lagi. Aku termenung kembali mengingat-ingat mimpiku barusan. “Kulo rindu njenengan sanget ibu. Rinduuu sanget”. Tiba-tiba terpikirkan hidupku beberapa tahun silam, ketika aku masih mabuk, tak tau darat dan laut. Ketika aku masih tak tau kemana arah tujuan hidupku, tak tau harus kemana ku pijakkan kakiku. “Ibu pasti nangis liat aku yang bejat, andai beliau hidup pasti malu telah melahirkan aku”. Maki diriku. Ku lihat atap-atap musholla, ku gelar pandanganku jauh sejauh retinaku menangkap bayangan. Ku dapati diriku tengah menjadi santri di pondok pesantren terpencil di desa bapak dan ibu tiriku, Pondok Pesantren Al-Muthmainnah yang didirikan oleh Gus Imam Samsuri. Malaikat dunia yang sudi memungut aku dari jurang nista.
Benakku kembali memutar tanya. “apa ibu bangga lihat aku nyantri disini? sedang banyak orang yang mencela santri itu masa depannya suram.” Bagaimana tidak, santri hanya dibekali ngaji dan ngaji, tidak pernah diajari cara mencari nafkah. Kata orang-orang begitu. “tapi aku yakin ibu lebih bangga aku seperti ini dari pada aku jadi pecandu miras seperti dulu.” Jawabku sendiri atas pertanyaan yang ku buat beberapa menit tadi.
Kisah masa laluku kembali terurai dalam angan, ketika aku masih menjadi seorang montir di bengkel besar dalam salah satu Mall di Surabaya, yang khusus menangani mobil-mobil mewah. Setiap bulan, gajiku hampir mencapai 2 juta rupiah. Aku tak menyewa kos, karena itu setiap malam aku menjadi gelandangan dan mabuk-mabukan dengan anak-anak jalanan lainnya. Tidurku ngemper dari satu toko ke toko yang lain. Hidupku bebas, hanya bersenang-senang dengan sebotol bir mahal. Karena gajiku besar dan tak ada keperluan selain makan.
 Sepanjang malam aku hanya ditemani botol-botol minuman keras, tak terpikir tujuan hidupku sama sekali. Sampai akhirnya suatu hari,… “Arif, sini kamu!” perintah majikannu. “Iya bos?” jawabku. “ku perhatikan, kamu yang paling ulet di bengkel ini, kerjamu juga bagus. Tinggal dimana kamu?” tatapan majikanku terlihat serius melihatku. “pindah-pindah bos, saya ndak punya tempat tinggal tetap.” Jelasku. “tinggal lah saja di rumahku, ada kamar kosong. sekalian bantu-bantu jaga rumah.” Sejak saat itu hidupku terasa lebih terangkat, seperti kucing kampung yang menjelma kucing angora. Aku tinggal di rumah besar, tempat tinggal majikanku.
Kehidupanku memang terangkat. Menjadi lebih terhormat dari sisi tempat tinggalku. Namun, gaya hidupku belum juga beranjak dari botol demi botol minuman keras.
Bosku bukanlah muslim, ia seorang kristen. Jadi bukanlah masalah baginya ketika mendapati diriku tengah sakau di kamarku. Ia tak pernah peduli. Sehingga tinggal dirumah yang bak istana itupun bagiku tak lebih dari hidup di kandang hewan. Bagaimana tidak? Setiap hari ku lihat putri tunggal bosku tengah bermesraan di kamar dengan pacarnya, bahkan hampir setiap hari ku temukan mereka tidur bersama tanpa ikatan pernikahan. Yah.. mungkin bagi mereka hidup ini  adalah milik mereka selagi ada uang dalam kantong. Tak ada Tuhan atau apapun yang menghalangi nafsu mereka di jurang kehinaan yang mereka anggap surga itu. Aku pun semakin meleleh dalam kehidupan ala surga yang jahanam itu.
Hingga suatu hari aku mendapati sebuah pesan dari adik tiriku yang tanpa ku sadari, itulah penyebab aku menemukan sebuah cahaya di sebuah desa kecil. Ia satu-satunya yang menyayangiku dengan tulus setelah ayah kandung dan ibu tiriku tidak pernah menganggapku ada. Ibu kandungku meninggal disaat aku masih balita. Aku tak pernah mengingat wajahnya. Aku mengenali ibuku, dari sisa-sisa foto yang ia tinggalkan.
Dalam pesan itu, adikku menyampaikan kabar pernikahannya. Ia mengancam tidak akan pernah bahagia jika aku tidak hadir dalam event pernikahan itu. Aku mulai menimbang-nimbang kehidupanku dengan menyusuri tiap tiap lorong masalaluku, hingga pada akhirnya ku dapati sebuah titik terang bagiku. Apalah artinya pekerjaan dan uang kalau harus mengabaikan satu-satunya keluarga yang menganggapku berharga. Toh kehidupanku tak pernah terasa jauh lebih baik. Mungkin inilah kebahagiaan yang bisa ku raih saat ini.
Akhirnya pulanglah aku ke desa ayah kandung dan ibu tiriku untuk menghadiri pernikahan adik tiriku. Namun, setelah satu minggu tinggal di desa itu, aku merasa nyaman, dengan teman-teman yang berpakaian muslim dan ramah. Sempat aku berfikir mungkin hidup mereka ini terasa jauh lebih berarti dari pada hidupku yang sudah amburadul. Namun, waktu itu aku masih gengsi dan sangat malas untuk berbaur dalam aktifitas mereka seperti ngaji, sholat, dan lain-lain. seringkali teman-teman baruku mengajakku untuk ngaji bersama mereka, tapi aku tetap tak bergeming.
Suatu ketika dirumah ayahku ditempati ngaji, aku terpaksa ikut acara itu. Aku duduk ditengah-tengah kerumunan mereka yang berbaju putih-putih, begitupun aku. Namun aku tidak mengenakan kopyahku. Aku terdiam diantara mereka. Telingaku rasanya pecah mendengar dengung dengung kalimat arab yang dibaca. Sungguh, aku tak suka bacaan-bacaan itu. Aku berharap acara itu segera berakhir. Setelah itu, aku tak berencana lagi untuk datang diacara semacam itu.
Kian hari, aku semakin panas dengan perlakuan ibu tiriku yang memang tak suka dengan kehadiranku di rumah itu. Diajaklah aku oleh seorang teman untuk ikut serta dengannya tidur di pondok pesantren yang terletak diujung dusun itu. Karena aku tak memiliki pilihan tempat tinggal lagi maka ku iyakan ajakan itu. Sebenarnya aku masih memiliki rumah di kampung satu kecamatan dengan desa itu, namun aku ingin berlama lama di desa itu. Aku hanya merasa damai disana.
Beberapa hari tinggal disana, aku dipinjami baju koko dan sarung. diajak ngaji dan sholat dari yang wajib sampai yang sunnah. Hingga tanpa ku sadar, aku mendapati diriku mulai merasakan damai ketika membaca beberapa bait burdah, al-Qur’an dan maulid-maulid yang lainnya. Aku tidak menemukan kesulitan dalam mempelajari al-Qur’an, karena pada masa kanak-kanak dahulu aku termasuk anak yang pintar dalam membaca al-Qur’an. Semakin hari, aku semakin merasakan manis dalam setiap majlis ta’lim. Sejak itulah ku putuskan untuk nyantri dan menebus masa-masa kelamku.
Aku tersentak dari lamunan ketika tarhim mulai menyapa semburat fajar. ku angkat tubuhku dari lantai dan bergegas menuju musholla. Ku ambil mushaf al-Qur’an dan mulai melantunkannya. Namun, beberapa bait aku melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, pikirku kembali memutar mimpi yang beberapa saat lalu hadir dalam tidurku. Sungguh, itu adalah mimpi yang tak pernah ku temui dalam sepanjang hidupku. Terlebih hidupku di masa lalu. Tak pernah aku mengingat ibuku. Karena mengingat ibuku, seolah mengingat juga akan kemalangan hidupku. Itu semua membuatku semakin terluka. Dan aku sangat membenci kemalangan hidupku waktu itu. Namun sekarang, saat aku nyantri justru bayangan ibuku hadir dengan segenap kenangan dan pengorbanan indah yang ia berikan untukku. Beliau memeluk dan mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang. Ia tak berpatah kata sekalipun. Namun, ia meneteskan airmata ketika memandang diriku. Ia terlihat sangat anggun dan lembut. Namun, tiba-tiba ia beranjak dan melambaikan tangannya kepadaku. Rasanya dadaku begitu sesak dengan perpisahan itu. Aku tak ingin lagi berpisah dengannya. Aku berpikir mungkin hidupku lebih berarti jika ia ada bersamaku. Aku memanggilnya. Menjerit sebisaku. Namun ia semakin menjauh dan menghilang.
Aku tak pernah mengingat ibuku, namun aku yakin, ibuku tak pernah melupakan aku, buah hatinya yang dengan pengorbanan jiwa dan raga beliau lahirkan dari rahimnya. Ia pasti hadir dalam mimpiku disaat aku sudah menjadi orang yang benar karena ia ingin menyatakan kebanggaannya terhadapku. Dan ia menangis karena merasa telah memberiku kehidupan yang sangat keras.  Cukup. Hanya itu penafsiran dari diriku. Maka ku lanjutkan bacaanku hingga saat subuh mengundangku untuk mengumandangkan adzan.

Ibu, janganlah menyesali kehidupan keras yang telah aku jalani. Karena hanya dengan takdir itu, aku bisa membedakan mana restu dan mana murka Tuhan. Walaupun aku hanya seorang yang biasa dan belum mencapai maqam yang terendah sekalipun.”

Jumat, 14 November 2014

Kisah Klasik

suatu pagi yang tidak cerah dua orang anak adam (satu orang masih dalam usia anak-anak, satu orang lagi agak dewasa ) tengah berpergian dengan berkendarakan sepeda motor menuju sebuah tempat dengan jarak sekitar 70KM. lebih dari target waktu, mereka sampai ditempat tujuan, maka pulanglah mereka. sesuai dengan cuaca pada keberangkatan mereka, rinai hujan pun mengguyur mereka dengan derasnya. satu orang yang lebih dewasa terlihat terlihat tengah sibuk mengeluarkan jas hujan dari jok sepeda motor dan langsung mengenakannya  untuk berdua karena khawatir basah. sepertiga perjalanan si dewasa merasa tidak nyaman sebab si anak terlihat masih terguyur hujan dari arah samping. maka dengan segera ia arahkan sepeda motornya di dekat trotoar dan menghentikannya. si dewasa langsung melepas jas hujan dan memakaikan pada si anak, si anak dengan terkejut keheranan karena melihat si dewasa mulai basah kuyup, ia mulai bertanya,"samean gimana?" namun si dewasa memerintahkan untuk segera bersiap duduk diatas sepeda motor. si anak memiliki kebiasaan tidur ketika diatas sepeda motor maka ia mendudukkannya di depan, dengan menyetir si dewasa mendekap erat si anak dengan satu tangan yang lain karena takut terjatuh ketika ia mengantuk, selain itu si dewasa juga takut si anak kedinginan. sepanjang 70KM di waktu berangkat dan pulang seperti itulah posisi mereka. ketika si dewasa merasa tangannya lelah, ia membangunkan si anak sejenak sebelum si anak kembali mengantuk dan kembali membutuhkan rengkuhan.
di tengah perjalanan pulang itu, seseorang meneriaki mereka samar-samar, tanpa berhenti si dewasa pun mencoba mengecek kalau-kalau mungkin ada yang salah dengan sepeda motornya. namun mereka tak beruntung, karena tidak melihat fokus ke depan, tanpa sadar sepeda motor mereka mengarah semakin kesamping dan alhasil mereka berdua terjatuh dan terperosok pada lubang yang lumayan dalam antara aspal dan trotoar jalan. sepeda motor itu terjepit antara aspal dan trotoar jalan yang masih berupa tanah keras. si anak terdorong ke depan dan terjepit di celah sepeda motor matik. si dewasa panik bukan kepalang, dingin dan jatuh sangat ia khawatirkan terjadi pada si anak, sekarang yang terjadi malah terjatuh dan terjepit. dengan segenap sakit dan gemetar yang ada, ia dibantu untuk berdiri oleh beberapa orang yang segera berhenti dan menolong mereka. namun setelah mampu berdiri si dewasa segera mencoba menarik si anak dari sepeda motor matic itu, nihil, tenaganya masih belum terkumpul untuk mampu menarik. hingga akhirnya orang yang menolong si dewasa berhasil menaikkan sepeda motor mereka dan mengangkat si anak. si dewasa mengeluarkan si anak dari jas yang membungkus tubuh si anak, dan mencoba melihat jika ada satu luka di tubuh si anak, namun si anak malah bertanya, "samean ndak apa?jangan pikirin aku, coba lihat kaki pean"
hati si dewasa tersentak, "bagaimana bisa dia lebih mengkhawatitkan aku daripada dirinya sendiri?". ia pun kembali menyetir sepeda motornya dengan memeluk erat anak itu sembari berkata, "Terima kasih Allah telah Kau jaga malaikat kecilku bahkan dari kepedihan luka sebesar ujung kuku."

mungkin sedikit membingungkan sebutan nama dari tokoh kisah singkat yang telah dipaparkan, tapi itulah secuil kisah klasik kasih kakak kepada adiknya dan adik kepada kakaknya. adik kakak yang tidak pernah rukun ketika bersama di dalam satu atap. kakak yang selalu beranggapan memiliki adik yang paling menyebalkan. adik yang selalu beranggapan memiliki kakak yang egois. ternyata semua keburukan yang terlihat itu adalah cara mereka menutupi kasih sayang yang sangat besar. inilah kakak yang sebenarnya, yang tidak pernah rela melihat airmata adik mengalir. jika boleh diutarakan dengan istilah yang kasar maka kakak akan bilang, "Siapapun yang bikin adikku nangis, Ku bunuh dia! Ku habisi dia!"

My Beloved Brother's : Akmal Zahir bin Hamid Al-Muhdlor

Kamis, 09 Oktober 2014

Arti Seratus Rupiah



Namaku Sa'adah. Aku putri tunggal bapak Samsuri Si Penjual Tempe keliling dari desa kecil dan terpencil. Hari-hari kami, berlalu dirumah kecil dengan debu-debu hitam di langit-langit rumah, bekas masak kedelai untuk tempe. Kalau musim hujan tiba, seluruh rumah akan dipenuhi tetesan-tetesan air berwarna hitam, sebab atap rumah bocor dimana-mana. Kami tidak ada biaya untuk memperbaiki atap itu. Untungnya lantai kami hanya terbuat dari ubin semen, jadi tetesan air hitam itu tak terlihat mengotori rumah kami. Rumah itu juga bukan rumah pribadi keluarga kecil kami, kasarnya kami hanya numpang di rumah mbahku, dari bapak.
Di keluarga kecil itu, aku hanya punya bapak dan ibu. Konon kandungan ibuku tidak subur, sehingga sulit untuk mendapat keturunan setelah melahirkan diriku.
Setiap sore, bapak repot menginjak-injak kedelai di dapur, biar kedelainya hancur katanya. Sedangkan ibu bertugas mencuci kedelai yang hancur itu, di kolam kecil dekat kamar mandi. Aku sering ikut menginjak-injak kedelai bersama bapak, ku pikir itu semacam permainan. Jadi dengan gelak tawa riang, aku berlari di tempat bersama bapak. Kemudian ikut berenang di kolam pencucian kedelai, setelah ibuku rampung menggarap tugasnya. Saat itu, Aku masih tak bisa memahami kalau bapak lari-lari diatas kedelai itu untuk menghidupi aku dan ibu. Aku masih tak mengerti kalau untuk mendapat uang itu butuh banyak memeras keringat. Yang aku tau, ketika aku hendak pergi sekolah, aku dapat uang saku Rp. 200 untuk jajan, sedangkan rata-rata temanku dapat jatah Rp. 500 untuk uang jajan mereka. Tapi, walau aku tau begitu, diriku yang masih dalam masa kanak-kanak tak pernah ingin minta tambahan uang sejumlah teman-temanku.
***
Kala itu, aku duduk di bangku TK nol kecil. Aku pergi sekolah dengan teman sebayaku di desa. Fadhilatul Amaliyah namanya. Sebut saja dila. Orang tuanya lebih susah dibanding bapak-ibuku. Hampir setiap pagi ia tidak mendapat uang jajan untuk pergi ke sekolah. Aku tak pernah sampai hati melihat ia gigit jari melihatku makan jajan sendirian. Akhirnya dengan uang Rp. 200 itu ku bagi berdua dengannya. Dengan begitu, tiap hari aku mendapat jatah uang jajan Rp. 100. Uang sejumlah Rp. 100, bagi anak TK pada jaman itu sudah cukup banyak. Aku bisa membeli mie godok, atau kerupuk kalau lapar, atau sebatang es lilin ketika aku dahaga. Aku tak bisa membeli makan dan minum secara bersama, karena uangku hanya Rp. 100. Tapi aku yang masih tak berinsting itu, merasa sangat bahagia melihat temanku ikut nyaman, bisa jajan bersama denganku.
***
Suatu hari aku yang masih lugu bercerita pada ibu. “bu, mbak dila lho biasae ndak dikasih uang sama bapaknya, aku kasian, ya uangku tak bagi sama mbak dila buat jajan.” Ucapku polos. Sejenak ibu melotot memandangku, “Ya Allah nak, uang itu mepet buat pean, ibu khawatir ndak cukup kok malah dibagi sama teman. Bapak belum bisa nambah uang jajan.” Ibu terlihat geram tapi iba juga melihat diriku yang sudah memiliki empati dimasa insting yang seharusnya belum tumbuh. Sejurus kemudian beliu meneruskan, Udah ndak usah dibagi-bagi, buat pean sendiri aja.” bentaknya khawatir. Aku hanya mengangguk, merasa bersalah karena dimarahi, tapi tak sampai juga hatiku membiarkan temanku melongo melihat diriku makan jajan sendirian. Akhirnya tetap ku jalani, uang jajan Rp. 100 itu setiap hari, tanpa sepengetahuan ibuku. Uang Rp. 100 begitu berarti bagi kami, orang pinggiran, orang miskin. Yah…Dari pada kami harus ngiler melihat kantin. Oleh karena itulah, walau nominalnya hanya Rp. 100, jumlah itu begitu berharga bagi kami.
***
Aku bahagia dengan hidupku yang serba mepet. Walau nominal-nominal besar rupiah tak muncul dalam rumah singgah kami. Walau berat badanku tak pernah naik, sekilo pun. Walau kerap kali aku harus makan dengan lauk bawang goreng dan secentong nasi, dalam suapan ibuku dengan di iringi tangis. Aku selalu ingat cara beliau menghiburku, agar aku tak sedih menjalani hidup miskin. “ndak apa ya nak, maem ikan bawang. Dari pada maem ikan jelantah.” Sambil meneteskan air mata iba melihat diriku yang tak dipenuhi asupan gizi yang baik. Tak lama kemudian beliau segera menghujani tubuhku yang mungil dengan belaiannya yang lembut.
Untuk mengetahui nilai Rp. 100 tanyakan pada orang yang makan dengan jelantah dan sesuap nasi. Jangan pernah congkak dengan uang berwarna merah dalam genggamanmu, karena didalamnya terdapat air mata mereka yang mengharap kau mengerti pilunya kehidupan.

Rabu, 08 Oktober 2014

Perjalanan Kasih Ananda




Seringkali tangan dan kaki ku biru sebab cubitan ibuku yang terlalu keras, sehingga  orang-orang usil pun menggodaku dengan kata, “ibumu  ndak sayang awakmu, mangkane dijiwiti”, “awakmu iku anak nemu, mangkane diseneni terus”, demikian yang mereka katakan. Tapi aku yang kala itu masih kanak-kanak dengan tingkat logika yang masih nol, merasa  itu adalah sebuah informasi bukan sekedar bercandaan. Sendiri aku menangis, meratap, dan bertanya-tanya, “mengapa ketika ibuku kesal, sedemikian kerasnya beliau terhadapku? Sedangkan anak lain, ketika berbuat salah ibunya tak sekeras itu?. Ah mungkin karena memang aku ini anak pungutan.” Pikirku. Waktu itu teman mainku juga acapkali diperlakukan sepertiku, dan ia memang anak angkat.
Begitu pula ketika masa membawaku pada masa remaja, tetap aku berpikir, ibuku tak sayang padaku, bahkan ia lupa untuk menjaga perasaanku, hanya kata-kata dan perilaku kasar yang selalu tersuguh untukku, tak peduli besar atau kecil salahku. Aku ingin pergi jauh dari rumah, tak bersama ibu lagi. Aku selalu mengukir kesalahan baginya.
Namun setelah sekian tahun aku menjejaki kehidupan, mulailah terurai satu demi satu korelasi logis tentang kasih sayang ibuku yang sedemikian dalam terhadapku, buah hatinya, darah dagingnya. Dimulai dari tangis ibuku yang sejadi-jadinya ketika pertama kali meninggalkanku di pondok, digenggam erat tanganku, dipeluknya badanku sebab menyadari waktu perpisahan semakin dekat, seolah ia tak pernah bisa hidup tanpaku. Hingga bapakku menyudahi tangisanku yang tak ingin sendiri di pondok, juga tangisan ibuku yang tak tega meninggalkanku, ditariknya dengan paksa tangan ibuku, “Ayo mantuk, arek e gak opo-opo ndek kene” desak bapakku. Ibuku tetap tak tenang dengan perkataan itu, dengan paksa ia berjalan menjauh dan masuk ke mobil, tapi pandangan dan tangannya tetap mengulur ke arahku. Sungguh realitas yang tak pernah tereka olehku, seberat itu rasanya ketika beliau jauh dariku walau masih satu kabupaten. Bahkan ketika om ku berkata bahwa ibuku sering menangis di depan televisi sebab merindukan dan terbayang diriku yang selalu menemani dan mengganggunya ketika menonton televisi, hampir aku tak percaya. Namun itulah kasih sayang ibu, selalu tak terduga bahkan oleh buah hatinya. Aku pun melihat sisi kehilangan dari ibuku. Bukan itu saja, ibuku juga selalu meminta untuk menjengukku dipondok setiap seminggu sekali kala itu, hanya ingin melihatku, dan senyum bahagiaku ketika mencicipi masakan ibuku. Ibuku juga selalu hafal daftar makanan yang paling ku suka bahkan yang agak ku suka.
Itu adalah kali pertama aku menyadari bahwa kasih sayang ibuku teramat sangat besar terhadapku. Terurailah memori masa kecilku, ketika ibu menggendongku dengan tangis di teras rumah mbahku sebab aku dicaci oleh adik bapakku. Tanpa suara, ibu menangis dengan memelukku, terlihat jelas ia tak rela aku dimarahi. Namun, kala itu aku tak bisa mengerti hal ini.

Ibuku pun terlihat sangat sakit ketika melihat kenyataan hidup yang tak layak untukku, ketika tuntutan finansial membuatku makan dengan lauk bawang goreng, ketika uang saku ku tak sesuai dengan standar anak-anak yang lain atau ketika melihatku seringkali terkapar sakit karena tubuhku yang lemah. Hanya airmata yang berderai, tanpa suara dan tanpa keluhan. Kini aku tahu, itu karena ibuku tak ingin aku menjadi sedih.
Ternyata memori itu belum juga berhenti. Seringkali ibu menggendongku kesana kemari walaupun aku sudah besar, tetangga yang melihat semua berkomentar ”wes gede kok digendong”, ibuku tetap tak menghiraukannya, juga tetap menyuapi aku sekalipun aku sudah menginjak remaja, selalu marah dan tak terima ketika ada seseorang yang membuatku kesal ataupun menangis. Dan seiring dengan hal itu, sering kali aku pulang dengan menangis, ibu pun bertanya, “lapo kok nangis nak?”, Aku pun menjawab, “Ibu, aku ndak dikonco arek-arek”. Dengan lembut,  kata yang ibu utarakan selalu terngiang ditelingaku, “Nek ndak dikonco arek-arek, kene nak ambek ibu ae, babawes arek-arek ndablek ancene”. Aku pun merasa tenang sebab selalu ada pembelaku.
Aku mulai mengurai perasaan-perasaan masa kecilku. Seringkali aku menjustifikasi ibuku tak sayang terhadapku, sebab aku hanya melihat bentuk kekesalannya saat beliau marah tanpa berfikir apa maksud dan tujuan ibuku demikian. Kini pun ku fahami, bahwa ibuku selalu mencemaskan keburukan terhadapku, hingga ia sebegitu gelisah dan marah ketika aku berbuat salah. Hanya karena takut aku tak menjadi orang yang benar dikemudian hari. Namun, yang demikian tak terpikir olehku kala itu. Bahwa betapa kemarahan ibu semata-mata teruntuk diriku sendiri, tak ada keuntungan untuk diri ibu sama sekali. Sebenarnya Kasih sayangnya lah yang membuncah ketika ibu sedang marah.
Ibu tak pernah mampu melihat kesulitanku, bahkan sekedar membayangkannya. Selalu ia buat aku merasa nyaman dan tentram dengan jerih payahnya. Jika tak mampu dengan tangan dan jemarinya, maka ia layangkan berutas-utas doa teruntuk diriku. Aku tahu, ibu selalu menyebut namaku dalam setiap doanya,agar aku bahagia, agar aku sukses, agar.. agar… Dan agar…..
Pada suatu kali, Allah memberiku kesempatan untuk berbakti dengan merawat ibu ketika ibu sedang sakit, aku sangat merasakan bagaimana lelahnya tugas seorang ibu. Aku pun kembali menyadari bahwa sebetapa aku berkorban, tak akan pernah mampu mengganti kasih sayang yang telah tercurah untukku. Buah hatinya. Dan nyatanya, kebiasaanku untuk merawat ibu ketika sakit, melelehkan airmataku ketika jauh dari ibu, terngiang bagaimana aku bisa melayani ibu dengan khidmat sekedar mencurahkan kasih sayangku yang tak pernah terbanding dengannya. Hatiku berkata, “Jam segini aku nyuapin ibu, ngelus-elus ibu, membuatkan ibu bubur… Allah, sedang apa ibuku kini?bahagiakah ia?atau sedang risaukah ia?”.
Hingga akhirnya ku panjatkan sebuah pinta, “Izinkan aku membahagiakan ibu bapakku, mewujudkan mimpi ibu bapakku.” Dan rasanya tak ingin berpisah dengan mereka selama-lamanya. Jika dunia tak bisa menjanjikan keinginanku, maka izinkan akhirat yang akan mewujudkannya, Tuhan. “Jaga ibu bapakku, ketika jauh dari pandanganku, Ya Robb. Kuatkan atas segala cobaan dan ujian, senantiasa tentramkan hati keduanya.”
Kini aku seorang anak, Ibu. Bukan lagi bocah nakal yang sering membuat ibu kesal. Restui diriku untuk menjadi seorang anak yang shalihah, agar kita tetap berkumpul dalam keluarga sakinah di akhirat nanti. Jangan menyesal melahirkan aku, seorang putri tunggal yang seringkali membuat ibu jengkel. Dan ibu, riwayatku ini mengingatkanku bahwa perempuan yang kuat itu buakanperempuan yang tak pernah menangis, tapi perempuan yang tak berputus asa sekalipun beratus-ratus kali menghadapi badai kehidupan. 

Rabu, 21 Mei 2014

Shobii


Aku tak tahan dengan suhu tubuhku yang semakin memanas, Tipus ini sangat meyiksaku, kala dingin seolah aku sedang diliputi salju tebal disekelilingku, kala panas seolah aku tengah tidur diatas penanangan nasi. Beberapa menit kemudian, Ku dengar ibu berujar sendiri sambil memegang tanganku yang tengah kepanasan,"Iki kok puanas tangan e", aku pura-pura tidur, seolah tak mendengar apa yang diucap ibu. "Ya Robb..Betapa tersiksa ketika aku harus bersandiwara di depan orang tuaku ketika sakit seperti ini" Keluhku dalam hati. Betapa aku harus melakukan ini agar kalian tak cemas melihat buah hati kalian.
Ku angkat tubuhku dari ranjang ibu menuju teras rumah. "Aku tak boleh terlena dan terlihat sakit disini." Hiburku.
Sang surya rupanya tengah mengirim cahaya perpisahan kala ini, sinar sayup mulai terlihat dipucuk-pucuk daun pepohonan depan rumah. Dalam diam, ku telisik sisi-sisi rumah dan sekitarnya. Aku pun mulai menikmati kisah natural yang tersuguh dalam tatapanku. Beberapa orang anak perempuan terlihat tengah merangkai drama melalui hayalan mereka sebagai orang dewasa. "Ruang tamuku disini, ruang tamu mu disana ya, kamar tidur disebelah ruang tamu." Kata salah seorang diantara mereka. Aku tersenyum kecil, terurai semua cerita masa kecilku, yang tak jauh beda dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Dan mulai tersadar juga, bahwa tanah lahirku kini telah jauh berbeda, sudah makin mentereng dandanannya. Bukan lagi tempat sederhana tempat aku bermain pasar-pasaran dulu.
Di sisi yang lain, terlihat beberapa orang anak laki-laki tengah bermain mobil-mobilan, seolah-olah mereka benar-benar supir yang professional dalam bidangnya. Beberapa saat kemudian, salah seorang diantara mereka berjalan mundur, entah dengan alasan apa. Sepertinya ia tengah ingin pulang ke rumahnya, apa ingin minum, ambil makanan atau mobil, karena ku lihat ia sendiri yang tak membawa mobil mainan bersamanya. Sambil berjalan mundur, ia berkata "Awas lho ya, tak kandakno ayah nek ndak…!" ujarnya lugu. Aku tersenyum kembali, seolah hanya ia yang punya ayah. Tak terpikir bahwa temannya juga punya ayah. Tak terpikir juga kalau ayahnya dan ayah temannya jadi bertengkar sebab anaknya saling mengadu. Anganku mulai memutar sebuah kebijaksanaan natural, betapa pemikiran manusia itu memang dijalankan Allah sesuai pada tingkatannya. Ketika balita, tak akan ada pemikiran mengenai orang lain, yang ada hanya dirinya sendiri, tak peduli dengan keadaan orang. Seiring waktu pemikiran manusia akan semakin bergulir menjadi lebih sensitive kepada manusia yang lain, sejalan dengan teori "Manusia adalah makhluk sosial". artinya manusia tak akan pernah bisa hidup dengan keegoisan, bagaimanapun juga butuh uluran yang lain. Sehingga pada masa itulah, manusia dituntut untuk saling memahami sesamanya.
Oh… betapa terasa ringan dan sok bertanggung jawab ketika menjadi "Anak Kecil", Ingatlah…betapa aku dahulu pun seperti mereka itu.